Dalam Kesunyian

Sore yang agak mendung ini, aku tetiba tersarar di salah satu kawasan elite di Jakarta, Senayan, setelah perjalanan panjang dari Depok. Aku mencoba mencari tempat singgah yang lumayan enak untuk disinggahi, hingga berhentilah di suatu mal, fX.

Setelah aku memarkir motorku di gedung sebelah fX, aku bergegas masuk ke mal tersebut untuk mencari tempat melepas penat setelah seharian tadi menonton pertandingan sepakbola Liga Junior. Tempat yang kutuju tak lain adalah Pazia di lantai 6. Aku menuju ke sana menggunakan eskalator, sembari melihat keadaan mal tersebut yang terlihat lebih ramai dari biasanya, dan didominasi oleh remaja tanggung dengan atribut salah satu idol grup yang tak asing bagiku, JKT48.

Ternyata memang benar, JKT48 sedang mengadakan event handshake teater, di mana CD yang dibeli langsung di toko mereka (fX lantai 4) maka yang membeli akan mendapat kesempatan untuk berjabat tangan dengan member yang diinginkan, sesuai dengan waktu dan jadwal yang telah disiapkan oleh pihak JKT48.

Aku mencoba mendekati toko merchandise mereka, dan mendapati kalau tiket handhake untuk sesi malam hari masih dijual. Dan setelah pergolakan batin yang panjang, akhirnya aku memutuskan untuk membeli sebuah CD JKT48-River dan mendapatkan tiket handshake bersama Devi Kinal Putri pada sesi 11.

F4 ini memang sangat ramai, sehingga aku memutuskan untuk tidak berlama-lama di sini. Aku bergegas menuju F6, ke Pazia, dan kembali mengambil eskalator sebagai jalan yang paling efektif, menurutku.

Tetapi Pazia yang ada di depanku bukanlah Pazia yang biasany aku singgahi. Pazia telah berubah menjadi seperti pasar tumpah, dengan puluhan manusia berjubel di dalam ruangan yang tidak terlalu besar ini. Sebagian duduk di kursi yang disediakan, sedangkan banyak dari mereka yang memilih untuk lesehan di sana.

Aku mengitari Pazia sambil mencari temanku yang mungkin ada di sana. Dan benar saja, beberapa temanku ada di sana. Aku mulai mencari teman untuk bersama-sama masuk pada sesi 11, dan berhasil menemukan teman untuk masuk bersama.

Setelah lama menunggu, sesi 11 yang ditunggu pun dimulai. Sebelum aku masuk ke ruang handshake, aku bergegas ke kamar mandi dahulu, mencuci muka, dan merapihkan setelah celana jeans hitam, tshirt biru dan jaket merah ku agar terlihat rapi.

Antrian sesi 11 tidak terlalu lama, aku mulai masuk dan di dalam ada peeriksaan jumlah pembelian dengan banyaknya tiket yang dibawa.
“Mungkin ini untuk menghindari tiket yang difoto-copy”, pikirku.

Aku mulai masuk ke barisan untuk handshake dengan Kinal. Tanpa persiapan apapun untuk dibicarakan.
“Aku mungkin mematung di depannya” , gumamku lagi.

Antrian pun berjalan, dan akhirnya tibalah giliranku. Aku mengeluarkan tangan kananku dari saku jaketku
“hai”, sapaku.
“Hai juga.”, ia membalas sapaanku sambil tersenyum. Kemudian kami bersalaman. Karena kupikir hanya beberapa saat, aku reflek menarik tanganku dari genggaman Kinal. Maklum, event ini adalah yang pertama aku ikuti, jadi aku tidak terlalu paham apa yang harus dilakukan. Saat kupikir tanganku sudah lepas dari genggaman Kinal, ia menarik tanganku dan menggenggamnya dengan erat. Aku hanya diam saja, dan batas waktu handshake ku pun tetap berjalan.
“Mau ngomong apa?”, sapaannya menghentakkanku dari lamunanku.
“Engga tau, saya juga bingung mau ngomong apa.”, jawabku seadanya
“Jangan begitu, dong. Masa engga ada yang mau diomongin?”, ia kembali bertanya kepadaku.
“Tapi emang bener, aku gaktau mau ngomong apa.”,jawabku lagi.
“emm nanti pulang hati-hati ya. Di luar hujan dan macet.”, Kinal coba membuka percakapan, dan aku pun tahu kalau di luar tidaklah hujan sama sekali.
“Iya. Eh nal kamu tau engga inti dari event hs? Bukan soal jbat tangannya, tapi soal interaksi nya. Coba deh baca AKB49.”, aku coba mengeluarkan topik. Tetapi saat topik sudah mulai keluar, aku sudah kehabisan waktu. Akhirnya aku sedikit meminggir dan tanganku masih dipegang oleh Kinal.
“AKB apa?”, ia coba menanyakan balik.
“AKB49 nal.”, aku balik menjawab.
“Oo yang komik itu ya? Nanti aku baca deh”, balasnya sambil menyelipkan dua buah stiker karakter dirinya di tanganku. Beberapa detik kemudian barulah tanganku lepas dari genggaman Kinal.

Aku kemudian berjalan keluar dari ruangan handshake, dengan perasaan yang campur aduk. Aku senang karena akhirnya bisa melihat dia secara langsung dan bercakap-cakap dengannya. Tetapi aku juga sedih karena gagal memperkenalkan diri. Tapi buat ku, yang terpenting adalah ia sudah paham etul makna interaksi dalam handshake. Walaupun kami sempat terdiam, senyumannya, genggaman tangannya, membuat kami tetap berinteraksi, walau dalam kesunyian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s