Tatapan Pertama, Surat Pertama

“Chant, buat nanti teriak-teriak pas JKT48 tampil.” , temanku menjelaskan isi kertas tersebut. Aku hanya melihat sesaat isi kertas kecil berwarna hijau tersebut tanpa terlalu peduli apa isinya karena waktu itu kupikir apalah pentingnya teriakan-teriakan semacam ini saat mereka tampil. Tapi kini malah aku yang penasaran soal hal ini.

Satu lagi yang Fajar beritahu kepadaku adalah soal oshi. Aku pun tidak mengerti apa yang dimaksud dengan oshi ini. Dalam otakku ketika mendengar kata oshi yang terbayang adalah OSI Layer –susunan lapisan pada pelajaran jaringan komputer-, tak lebih dari itu.

“Apalagi itu oshi, Jar?”, tanyaku penasaran.

“Duh gue juga bingung jelasinnya. Hmm semacam member favorit gitu, atau member yang paling lo dukung, Ham. “

Member yang kudukung? Aku tidak pernah memikirkan soal hal ini. Aku pun tak paham bagaimana cara mendukung mereka secara personal.Sedikit kudengar cerita dari orang-orang, kalau di dalam per-48-an ini ada salah satu cara untuk kita bisa ngobrol secara tidak langsung dengan oshi tersebut. Orang-orang tersebut memang tidak memiliki kontak langsung dengan para member JKT48, tapi mereka tetap bisa berinteraksi dengan mengirim hadiah untuk oshi mereka, atau mengirim surat untuk oshi tersebut.

Aku hanya termenung memikirkan soal oshi ini. Lamunanku soal istilah-istilah per-48-an yang Fajar beritahukan kepadaku terhenti pada kata oshi. Beberapa bulan aku mengikuti JKT48, aku tak pernah berpikir untuk mengirim surat atau bahkan memberikan hadiah kepada salah satu member JKT48.

“Mungkin aku akan coba untuk meng-oshi-kan seseorang.”, gumamku sambil terus memikirkan hal ini. Pikiranku melayang entah kemana hingga tiba-tiba aku berhenti pada suatu nama.

Devi Kinal Putri

“Kurasa dialah oshi-ku.”, aku memantapkan pilihan ini dalam hati. Entah mengapa hatiku terhenti pada nama ini. Kuperhatikan koleksi foto-foto JKT48 ku di handphone, berharap aku bisa menemukan satu atau dua foto kinal di sana. Aku terus mencari foto Kinal diantara ratusan foto yang ada di handphone ini, hingga akhirnya pilihanku berhenti pada suatu foto.

Resolusi fotonya tidak terlalu besar, tapi cukup jelas untuk dilihat dengan ukuran sebesat layar handphoneku. Kuperhatikan foto tersebut beberapa saat. Awalnya aku tidak menemukan sesuatu yang unik dari Kinal, tetapi aku terus melihat foti tersebut dan mataku terpaku pada senyumanya.

“Lucu banget sih..”, hatiku berdegup kencang saat melihat fotonya. Rasanya aku ingin menulis sebuah surat untuk dia. Aku ingin dia tahu kalau aku ada dan aku mendukung dia. Baru kali ini aku merasakan keinginan yang kuat untuk mendukung seseorang seperti ini. Dan orang pertama itu adalah Kinal.

Aku memutuskan untuk bergegas pulang ke rumah. Otakku dipenuhi oleh kata-kata untuk menulis surat pertamaku kepada Kinal. Dan bak gayung bersambut, hujan di luar pun mulai mereda seperti memberiku tanda untuk segera pulang. Kurapikan seluruh perlengkapan yang dari tadi kupakai untuk menhabiskan waktu di sini dan bergegas pergi dari foudcourt mall ini. Supaya cepat, aku berjalan menuju lift terdekat dan menunggu lift tersebut sampai di lantaiku.

Pintu lift ini memantulkan bayanganku. Walau agak samar, aku bisa sedikit membayangkan bagaimana orang melihat penampilanku dengan jaket merah serta celana jins ini. Tak lama menunggu, suara bel dari lift ini berbunyi dan menandakan kalau lift ini sudah sampai di lantai tempat aku berdiri. Pintu lift ini masih tertutup, dan beberapa detik berlalu pintu lift ini mulai terbuka perlahan. Aku bersiap-siap untuk masuk ke lift tersebut hingga tiba-tiba langkahku terhenti tepat di depan pintu lift yang sudah menganga di depanku. Apa yang kulihat di depan mataku secara langsung ini benar-benar membuatku terdiam, hatiku berdegup sangat, sangat cepat.

“Malaikat telah turun dari langit.”, aku berkata lirih ditengah detak jantung yang masih tidak teratur dan langkah kaki yang terhenti tiba-tiba ini.

————————————-

Aku menjatuhkan tubuhku pada kasur di kamarku. Sambil menatap langit-langit kamar, aku kembali membayangkan apa yang terjadi barusan. Terasa seperti mimpi, tapi berkali-kali pula aku mengatakan kalau itu adalah sebuah mimpi, berkali-kali pula logika ku menolaknya.

“K.. Kinal?”, aku coba menyapanya dengan agak terbata-bata, tanpa menyadari kalau dari tadi aku terlihat aneh di depannya.

“Haai.”, ia menyapaku. Aku terdiam, perlu beberapa saat bagiku untuk menyadari kalau ini bukanlah mimpi. Aku benar-benar ada di sini, di depan sebuah lift, dan bertemu dengan orang yang sangat aku kagumi di JKT48.

“Ngapain di luar terus? Kamu mau turun, kan?”, suara indah itu menyadarkan aku yang dari tadi hanya berdiri di depan pintu lift.

“Ah, iya iya. Maaf nal hehe.” Aku masuk ke dalam lift itu. Lift ini sebelum aku naik hanya ada Kinal di dalamnya. Jadi, sekarang hanya aku dan dia yang ada di lift ini. Aku sangat ingin ngobrol dengan Kinal, tapi benar-benar tidak tahu apa yang harus kukatakan kepadanya.

“Kamu tadi nonton kita, kan?”, Kinal yang mulai pembicaraan. Berada dalam satu lift, lalu ia memulai pembicaraan sambil tersenyum padaku, terasa seperti mimpi. Tapi ini bukan mimpi, begitulah yang ada dalam batinku sambil meyakinkan diriku sendiri kalau ini bukanlah sebuah mimpi.

“Eh, iya Nal. Perform kamu bagus banget tadi.”, aku menjawab pertanyaan yang ia lontarkan barusan. Ia tersenyum mendengar jawabanku, sedangkan aku makin kesulitan mengendalikan diriku sendiri yang terlalu sumringah melihat orang yang kukagumi tersenyum di depanku.

Lift ini terasa melambat seakan menginginkanku untuk bertahan lebih lama dengannya. Dalam benakku, aku ingin memperkenalkan namaku kepadanya. Setidaknya, agar dia tahu kalau aku ada dan akan selalu mendukungnya.

“Eh iya nal,”, kalimatku terhenti sesaat.

“Ya?”, iya membalas sambil melihat dengan tatapan penasaran kepadaku.

“Kenalin, nama saya Ilham, Nal. Saya nge-oshi-in kamu, jadi bakal terus coba buat selalu dukung kamu. Kamu yang semangat ya!”, aku menyelesaikan kalimatku seraya memperkenalkan diri. Ia membalas dengan senyumnya yang hingga sekarang masih terbayang-bayang di dalam benakku.

“Kayaknya gue harus buat letter nih.”, aku bangkit dari kasurku dan mulai mencari secarik kertas dan pulpen. Otakku dipenuhi dengan ide-ide untuk surat pertamaku untuk Kinal,dan sore ini aku membulatkan tekad untuk menulis semuanya.

Menulis surat ini tak semudah yang kubayangkan sebelumnya. Banyak ungkapan-ungkapan yang begitu ingin aku tuliskan tapi sangatlah sulit untuk menemukan kata-kata yang tepat untuk menuliskannya. Beberapa kertas yang sudah kuremas-remas berserakan dikamarku.

“Enam yah.”, aku bergumam sambil menghitungi kertas-kertas yang tergeletak itu. Sudah enam kali aku gagal menulis surat pertama untuknya, dan ini yang ke tujuh, aku tidak ingin gagal lagi.

Sinar matahari sore yang menerobos dari kaca jendela kamarku perlahan pun hilang. Tulisan di kertas ini perlahan-lahan semakin tidak terlihat. Aku menghentikan sejenak memikirkan persoalan surat ini yang sejak tadi kukerjakan di sini. Aku melemparkan tubuhku ke kasur, menutup kepalaku dengan bantal hingga makin gelap pandanganku. Headset yang dari tadi ada di atas kasur kupasangkan pada handphone ku dan kuletakkan di telingaku. Headset ini telah kusetting sedemikian rupa sound output nya agar sesuai dengan keinginanku. Dari handphone, aku menekan tombol auto-play yang ada di bagian atas handphone.

Jika kamu merasa bahagia
Semoga saat ini kan berlanjut
Selalu selalu selalu ku akan terus berharap
Walaupun ditiup angin
Ku akan lindungi bunga itu

Cinta itu suara yang
Tak mengharapkan jawaban
Tapi dikirimkan satu arah

Dibawah mentari tertawalah!
Menyanyi!
Menari!
Sebebasnya!

Karena kusuka suka dirimu
Ku akan selalu berada disini
Walau didalam keramaian
Tak apa tak kau sadari
(Aku suka!)
Karena kusuka suka dirimu
Hanya dengan bertemu denganmu
Perasaanku jadi hangat
Dan menjadi penuh

Disaat dirimu merasa resah
Berdiam diri aku mendengarkan
Ku beri payung yang kupakai tuk hindari hujan
Air mata yang terlinang
Kan ku seka dengan jari di anganku

Cinta bagai riak air
Meluas dengan perlahan
Yang pusatnya ialah dirimu
Walaupun sedih jangan menyerah
Kelangit!
Impian!
Lihatlah!

Kapanpun saat memikirkanmu
Bisa bertemu kebetulan itu
Hanya sekali dalam hidup
Ku percaya keajaiban
(Ku berharap!)
Kapanpun saat memikirkanmu
Aku pun bersyukur kepada tuhan
Saat ku toleh ke belakang
Ujung kekekalan

Karena kusuka suka dirimu
Ku akan selalu berada disini
Walau didalam keramaian
Tak apa tak kau sadari
(Aku suka!)
Karena kusuka suka dirimu
Hanya dengan bertemu denganmu
Perasaanku jadi hangat
Dan menjadi penuh

Ujung kekekalan….!!

Aku terdiam mendengar lagu ini. Lagu ini benar-benar indah.  Lirik-liriknya membuat ku kembali ingat kepada Kinal, perasaanku kepadanya, keinginan untuk mendukungnya, semuanya ada pada lirik lagu ini.

Aku bangun dari kasurku, kutekan tombol lampu yang ada di sampingku dan aku kembali bergegas untuk menulis sebuah surat. Ya, surat yang mewakili perasaaku kepada Kinal, sebuah dukungan kepadanya. Aku meremas-remas kertas ketujuh yang kupakai untuk menulis surat dan kubuang begitu saja ke lantai. Aku mengambil sebuah kertas baru dan pulpen yang tergeletak di lantai. Tanganku terus bergerak menulis semua kata-kata yang terus muncul dari dalam kepalaku.

Tak lama kemudian, sebuah kertas di depanku telah terisi penuh oleh kata-kata. Kubaca kembali tulisan-tulisan itu, dan aku menemukan sesuatu yang berbeda dari tujuh buah kertas yang tadi telah kubuang. Satu hal yang kurang dari surat-surat tadi yang baru saja kusadari, yaitu perasaan. Ya, aku telah menyampaikan perasaanku kepadanya lewat surat ini.

 

—–

Mampir yuk🙂

One thought on “Tatapan Pertama, Surat Pertama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s